Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Penimbunan Hutan Mangrove Di Tembesi Kecamatan Sagulung Diduga Dikerjakan Secara Ilegal

Rabu | April 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-08T10:46:47Z
Foto: Pengerusakan dengan cara melakukan penimbunan terhadap hutan mangrove di jl. Taman anugrah residence, Tembesi, Kecamatan Sagulung 

Batam, Berindonews.com - Pengerusakan hutan mangrove tak kunjung berakhir dan tak kunjung mencapai klimaksnya di Batam. Pengerusakan dengan cara melakukan penimbunan terhadap hutan mangrove, terus menerus terjadi secara berkesinambungan dibanyak tempat di Batam.


Pemerintah Kota Batam, Badan Pengusahan (BP) Batam, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikan (KKP), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi, Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, dan instansi terkait lainnya, terkesan tidak perduli dengan kondisi rusaknya hutan hutan mangrove tersebut.


Dugaan kemudahan penerbitan izin alih fungsi hutan mangrove menjadi lahan komersial di Batam, ditengarai menjadi salah satu penyebab kerusakan terbesar ekosistem hutan mangrove diberbagai wilayah di pesisir Kota Batam. 


Banyak pengusaha terlihat secara ugal-ugalan membangun kerajaan bisnisnya di Batam dengan merusak hutan mangrove, tanpa pernah berpikir akan dampak buruk seperti bencana alam, yang bisa terjadi kapan saja akibat dari kerusakan hutan hutan mangrove di Batam. Kondisi ini tidak sejalan dengan keinginan dan cita-cita mantan Presiden RI Jokowidodo.


Mantan presiden Jokowidodo sangat menyadari pentingnya pelestarian hutan mangrove. Sehingga beberapa waktu lalu ia turun secara langsung melakukan penanaman mangrove di Batam. Mantan presiden RI Jokowidodo yang notabene tidak berdomisili di Batam, bersama ratusan warga pesisir khususnya masyarakat pesisir Rempang dan Galang, secara bersama-sama melakukan penanaman pohon mangrove di pesisir Pantai Setokok, Batam, pada 28/9/2021 lalu.


Kegiatan penanaman mangrove di pesisir pantai Setokok, yang dilakukan bersama mantan presiden RI Jokowidodo dan masyarakat sekitar waktu itu, diperkirakan menelan tidak sedikit anggaran. Seperti misalnya anggaran kunjungan kerja presiden, penyediaan bibit mangrove, biaya penanaman mangrove, pengamanan presiden, mobilisasi masyarakat, serta banyak anggaran anggaran lainnya.


Namun sangat disayangkan, penanaman bibit mangrove yang dilakukan oleh mantan presiden Jokowidodo bersama ratusan masyarakat pesisir di pantai Setokok tersebut, serasa menabur garam di laut. 


Pasalnya, anggaran yang dinilai tidak sedikit untuk program penanaman bibit mangrove yang luasnya sekitar tiga kali lapangan bola di pesisir pantai Setokok tersebut, kontras dengan kerusakan hutan mangrove yang terus menerus terjadi tanpa henti di Batam.(Tim)
×
Berita Terbaru Update