![]() |
| Foto: Pengerusakan dengan cara melakukan penimbunan terhadap hutan mangrove di jl. Taman anugrah residence, Tembesi, Kecamatan Sagulung |
Batam, Berindonews.com - Pengerusakan hutan mangrove tak kunjung berakhir
dan tak kunjung mencapai klimaksnya di Batam. Pengerusakan dengan cara melakukan
penimbunan terhadap hutan mangrove, terus menerus terjadi secara
berkesinambungan dibanyak tempat di Batam.
Pemerintah Kota Batam, Badan
Pengusahan (BP) Batam, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikan
(KKP), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi, Dinas Lingkungan Hidup
Kota Batam, dan instansi terkait lainnya, terkesan tidak perduli dengan kondisi
rusaknya hutan hutan mangrove tersebut.
Dugaan kemudahan penerbitan izin alih
fungsi hutan mangrove menjadi lahan komersial di Batam, ditengarai menjadi salah
satu penyebab kerusakan terbesar ekosistem hutan mangrove diberbagai wilayah di
pesisir Kota Batam.
Banyak pengusaha terlihat secara ugal-ugalan membangun
kerajaan bisnisnya di Batam dengan merusak hutan mangrove, tanpa pernah berpikir
akan dampak buruk seperti bencana alam, yang bisa terjadi kapan saja akibat dari
kerusakan hutan hutan mangrove di Batam. Kondisi ini tidak sejalan dengan
keinginan dan cita-cita mantan Presiden RI Jokowidodo.
Mantan presiden
Jokowidodo sangat menyadari pentingnya pelestarian hutan mangrove. Sehingga
beberapa waktu lalu ia turun secara langsung melakukan penanaman mangrove di
Batam. Mantan presiden RI Jokowidodo yang notabene tidak berdomisili di Batam,
bersama ratusan warga pesisir khususnya masyarakat pesisir Rempang dan Galang,
secara bersama-sama melakukan penanaman pohon mangrove di pesisir Pantai
Setokok, Batam, pada 28/9/2021 lalu.
Kegiatan penanaman mangrove di pesisir
pantai Setokok, yang dilakukan bersama mantan presiden RI Jokowidodo dan
masyarakat sekitar waktu itu, diperkirakan menelan tidak sedikit anggaran.
Seperti misalnya anggaran kunjungan kerja presiden, penyediaan bibit mangrove,
biaya penanaman mangrove, pengamanan presiden, mobilisasi masyarakat, serta
banyak anggaran anggaran lainnya.
Namun sangat disayangkan, penanaman bibit
mangrove yang dilakukan oleh mantan presiden Jokowidodo bersama ratusan
masyarakat pesisir di pantai Setokok tersebut, serasa menabur garam di laut.
Pasalnya, anggaran yang dinilai tidak sedikit untuk program penanaman bibit
mangrove yang luasnya sekitar tiga kali lapangan bola di pesisir pantai Setokok
tersebut, kontras dengan kerusakan hutan mangrove yang terus menerus terjadi
tanpa henti di Batam.(Tim)
